"Aku akan menjemput Kakak dan mengantarnya pulang." kata Hyo Seon di telepon.
"Kau akan habis." kata suara di seberang saluran, Paman Hyo Seon. "Ayahmu sangat
marah."
"Aku mengerti." kata Hyo Seon kesal. "Karena itulah aku membawanya pulang agar
bisa bersembunyi dibelakangnya."
Hyo Seon turun dari mobilnya dan melihat Eun Jo masuk ke ruang pameran lukisan.
"Kenapa kau kesini?" tanya Eun Jo.
"Aku datang untuk melihat lukisan." jawab Hyo Seon. "Kau tidak tahu kalau disini
ada pameran lukisan? Aku tahu dari Kak Ki Hoon."
"Apa katamu?"
"Kau tidak tahu? Kami sedang berpacaran. Kak Ki Hoon... dan aku." kata Hyo Seon.
Ia melihat Eun Jo, yang terlihat acuh. "Kenapa? Apa aku kelihatan sedang
berbohong?"
Tanpa mengatakan apapun. Eun Jo berjalan untuk melihat lukisan yang lainnya.
Hyo Seon mengantar Eun Jo pulang dengan mobilnya.
"Kau tidak tahu aku dan Kak Ki Hoon sedang berpacaran?" tanya Hyo Seon. "Kelihatannya
kau sama sekali tidak berkomunikasi dengannya."
Eun Jo tidak mengatakan apapun. Hyo Seon menoleh dan melihat Eun Jo tertidur.
"Aku tahu ia ingin bertanya." pikir Hyo Seon dalam hatinya. "Tapi dia berpura-pura
tidur. Jika ia bertanya padaku, aku akan langsung menceritakan segalanya padanya."
Hyo Seon menghentikan mobilnya dengan mendadak sehingga Eun Jo terbangun.
"Sebbelum sampai rumah, aku ingin mengatakan sesuatu." kata Hyo Seon. Eun Jo
mengernyit marah, dan memejamkan matanya lagi. "Aku menghabiskan banyak dari
kartu kreditku. Ayah sangat marah padaku. Bisakah kau membelaku?"
"Apa?" tanya Eun Jo.
"Kakak, bisakah kau membelaku?" tanya Hyo Seon.
"Seberapa banyak yang kau habiskan?"
"Tidak tahu." jawab Hyo Seon acuh. "Sepertinya cukup banyak. Aku harus berhenti
karena sudah mencapai limit."
"Apa yang kau lakukan hingga mennghabiskan sebanyak itu?" tanya Eun Jo lagi.
"Di dunia ini banyak sekali sesuatu yang cantik." jawab Eun Jo.
"Jadi, kau membeli sesuatu yang cantik sampai mencapai limit?"
Hyo Seon mulai kesal. "Itu bukan hanya barang-barangku. AKu juga membelinya
untuk ibu dan kau..."
"Cukup." potong Eun Jo. "Aku sama sekali tidak berniat membantu menyelesaikan
masalahmu. Cepat jalankan mobilnya."
"Apa yang hebat dari dirimu hingga kau berlagak sempurna?" tanya Hyo Seon sinis.
Eun Jo menatap Hyo Seon sekilas, dan tanpa mengatakan apa-apa, turun dari mobil
itu.
Hyo Seon turun dari mobil dan memanggil Eun Jo. "Berhenti!" teriaknya.
Eun Jo tetap berjalan dengan acuh. Hyo Seon mengejarnya. "Kau tidak mendengar
apa yang kukatakan?"
Eun Jo menghempaskan tangan Hyo Seon."Lepaskan aku dan bicara."
"Ayah sedang menungguku dengan tongkat. Apa kau akan membiarkan aku dipukul?"
tanya Hyo Seon.
"Apa cita-citamu? Apa rencanamu untuk masa depan?" tanya Eun Jo. "Kau tidak
memiliki rencana atau ambisi?"
"Jika aku punya, apa kau ingin tahu?" tanya Hyo Seon. "Apa kau bertanya padaku
karena ingin tahu? Tidak! Kau hanya ingin menjadi Nona Sempurna dan ingin
menghentakkan kaki padaku, bukan?"
"Apa kau ingin terus menari balet?" tanya Eun Jo.
"Aku tidak akan ikut audisi jika tidak ingin terus menari!" seru Hyo Seon emosi.
"Lalu kenapa kau selalu jatuh?" tanya Eun Jo. "Kenapa kau tidak pernah terpilih
walaupun hanya sekali? Apa kau pernah berlatih dengan seluruh usahamu?"
"Tentu saja!" teriak Hyo Seon.
"Lalu kenapa kakimu masih bersih dan mulus?" tanya Eun Jo tajam, membuat Hyo
Seon terdiam. "Penari ballet jatuh berulang kali. Tapi kenapa kakimu seperti
tidak pernah terbaret? Kau tidak berlatih, bukan? Sebenarnya kau tidak ingin
manari ballet, bukan? Kau tidak punya cita-cita, bukan? Kau tidak punya rencana
atau tujuan, bukan? Satu-satunya hal yang kau tahu hanyalah menggunakan kartu
kredit dan menghabiskan uang keluargamu."
"Apa kau sudah selesai bicara?" Hyo Seon berkata dengan mata berkaca-kaca.
"Jangan menangis di depanku." kata Eun Jo sinis. "Itu sangat mengganggu."
Sesampainya di rumah, Dae Sung sedang bersama dengan putranya dari Kang Sook
yang bernama Joon Soo.
Hyo Seon dibawa ke ruang belajar dan dihukum oleh Dae Sung. Kang Sook
membantunya dan menyuruh Hyo Seon lari. Ia merayu Dae Sung dengan air matanya,
seperti biasa. Dae Sung luluh. Tapi, Kang Sook malah membuka kesalahan Hyo Seon
yang lebih besar.
"Memakai kartu kredit hanya salah satu hal yang ia lakukan, tapi ia sering
sekali tidak pulang sampai tengah malam." kata Kang Sook. "Aku penasaran apa
yang ia lakukan."
"Apa? Tengah malam?" tanya Dae Sung, marah lagi.
"Dia sudah dewasa, jadi memiliki satu atau dua pacar adalah hal yang normal."
kata Kang Sook, antara membela tidak membela. "Kelihatannya ia memiliki lebih
dari satu atau dua pacar."
Dae Sung berteriak marah. "Apa?!"
"Jangan berteriak." kata Kang Sook. "Tidak semua wanita memiliki integritas
seperti Eun Jo."
"Tengah malam?! Lebih dari satu dan dua pacar?!" teriak Dae Sung, hampir meledak.
Kang Sook berjanji akan bicara dan memperbaiki sifat buruk Hyo Seon. Tanpa
mereka ketahui, Hyo Seon mendengar pembicaraan mereka dari luar.
Eun Jo duduk diam di kamarnya, teringat perkataan Hyo Seon bahwa ia dan Ki Hoon
berpacaran. Ia membuka lemari untuk mengambil pakaiannya, namun terdiam ketika
melihat tasnya.
Teringat masa lalu ketika ia mencoba pergi dari rumah itu setelah kepergian Ki
Hoon. Dae Sung melihatnya.
"Aku tidak tahu, tapi entah kenapa aku selalu merasa bahwa kau akan menghilang
begitu saja." kata Dae Sung. "Aku tahu kau dekat dengan Ki Hoon. Setelah
kepergiannya, kau adalah orang yang paling kucemaskan."
"Tolong izinkan aku pergi." pinta Eun Jo, menangis.
"Aku tidak bisa." jawab Dae Sung.
"Aku akan pergi. Jika kau tidak membiarkan aku pergi sekarang, ketika pergi ke
sekolah besok atau saat matahari terbit, aku akan tetap pergi."
"Aku akan membiarkanmu pergi setelah aku yakin bahwa aku tidak perlu
mencemaskanmu lagi." kata Dae Sung. "Aku berjanji. Aku selalu menepati janji
yang kubuat. Ketika aku berkata aku mencemaskanmu, apa kau tidak percaya? Ketika
aku berjanji, kau tidak percaya juga? Mulai saat ini, akulah alasan kenapa kau
harus tetap tinggal di rumah ini. Percayalah padaku."
Dae Sung mengambil tas Eun Jo dan merangkulnya kembali ke rumah.
Eun Jo mengemukakan rencananya untuk mencari orang yang kompeten dalam bidang
marketing sehingga ia bisa lebih fokus untuk melakukan penelitian pada ragi. Ia
ingin mengembangkan usaha Anggur Dae Sung.
"Aku tidak punya keinginan untuk mengembangkan perusahaan." kata Dae Sung.
"Lalu kau butuh aku untuk apa?" tanya Eun Jo. "Bukankah kau ingin aku
mempelajari mikrobiologi agar bisa melakukan tugas itu? Tidak perlu mikrobiologi
jika yang kau inginkan hanyalah fermentasi dalam botol."
Dae Sung tertawa.
Kang Sook datang ke kamar Hyo Seon untuk melihat tas-tas yang dibeli oleh Hyo
Seon.
"Aku juga membelikanmu satu." bisik Hyo Seon.
Kang Sook sangat senang. Selain itu, ia juga meminta beberapa tas Hyo Seon.
Dengan senang hati, Hyo Seon memberikan apa yang diinginkan Kang Sook.
Di sisi lain, Eun Jo mencoba belajar, tapi pikirannya tidak bisa tenang dan
konsentrasi.
Mendadak ia mendengar Hyo Seon sedang bicara dengan seseorang di telepon, lalu
mengintipnya.
"Kau akan masuk?" tanya Hyo Seon. "Sekarang?"
Hyo Seon pergi keluar untuk menemui seorang pria. Pria itu sangat cemas dan
takut kalau Hyo Seon marah.
"Kenapa kau menghindari teleponku?" tanya pria itu. "Apa aku melakukan kesalahan?
Kau pikir aku datang jauh-jauh dari Seoul untuk menerima sikapmu yang sangat
dingin?"
Hyo Seon kesal, tapi berusaha menutupinya. Ia tersenyum pada pria itu. "Aku
mengerti. Kak Hyung Ku, kau harus pulang."
Setelah Hyung Ku pergi, Hyo Seon kembali ke rumah. Tapi tiba-tiba ponselnya
berbunyi lagi.
"Apa? Ban mobilmu bermasalah? Memangnya apa hubungannya denganku?!" Hyo Seon
berkata kesal, tapi kemudian mencoba bersabar. "Kau bisa berjalan menuju stasiun
kereta bukan?"
Setelah Hyo Seon masuk ke dalam rumah, Eun Jo bergegas pergi untuk mengejar laki-laki
itu. Ia pikir Hyung Ku adalah Ki Hoon.
Ia mencari ke stasiun kereta dan ke bengkel mobil, namun tidak bisa menemukan Ki
Hoon.
Hari itu, Ki Hoon kembali ke Korea dan langsung menemui ayahnya, Presiden Hong.
"Apa ini sudah 6 tahun?" tanya Presiden Hong.
"8 tahun." kata Ki Hoon dingin, tanpa memandang ayahnya.
"Ki Jung bekerja dengan sangat baik. Kau harus berhati-hati dengannya." kata
Presiden Hong. "Ia menarik semua orangku. Kini, tidak ada lagi orang yang
berdiri dipihakku."
Ki Jung pandai membuat orang lain berada di pihaknya.
Ki Hoon menyerahkan sebuah dokumen pada ayahnya. "Ini yang kita bicarakan di
telepon kita yang terakhir."
Presiden Hong menerima dokumen itu dan meletakkannya di meja. Ki Hoon bingung.
"Ada sebuah masalah yang lebih penting dari ini." kata Presiden Hong. "Karena
itulah aku memanggilmu kembali."
Ki Hoon menginap di hotel. Di sebuah majalah, ia melihat Dae Sung dan Eun Jo di
sebuah artikel mengenai Perusahaan Anggur Dae Sung.
Dengan ragu, Ki Hoon meraih telepon.
Ketika Joon Soo sedang bertengkar dan membuat temannya menangis, seorang pria
datang.
"Kau tinggal di rumah ini?" tanya pria itu.
"Siapa kau?" tanya Joon Soo.
Rupanya pria itu adalah Han Jung Woo.
"Aku adalah Han Jung Woo, orang yang dipanggil untuk bekerja selama enam bulan!"
teriak Jung Woo dengan lantang layaknya tentara seraya memberi hormat. Paman Hyo
Seon menutup telinganya.
"Masuklah ke dalam."
"Siap, Pak!"
Jung Woo masuk dan melihat Eun Jo sedang menjelaskan segala sesuatu di pabrik
itu pada para pengusaha. Jung Woo tersenyum tipis dan berjalan mengikutinya.
Eun Jo membawa para pengusaha itu ke ruang penyimpanan anggur dan menyuruh
mereka mendengarkan suaranya. Eun Jo terdiam karena merasakan sesuatu. Matanya
menjadi berkaca-kaca.
Dae Sung menepuk pundak Eun Jo pelan dan menyuruhnya mengantar para pengusaha
itu ke ruang ragi. Eun Jo berjalan melewati Jung Woo, namun tidak mengenalinya.
Hyo Seon ikut audisi menari balet, namun ia terjatuh. Lagi-lagi terjatuh.
"Biar aku mencobanya lagi." pinta Hyo Seon pada para juri.
"Kami sudah melihat. Kau boleh pergi." kata Juri.
Tanpa memedulikan kata-kata juri, ia terus menari dan terjatuh lagi. Hyo Seon
teringat kata-kata Eun Jo. "Apa kau tidak punya cita-cita? Kau tidak memiliki
rencana dan tujuan, bukan?"
Hyo Seon menangis. "Aku bisa mulai membuat rencana sekarang." katanya.
Kang Sook menunggui Hyo Seon audisi. Ia menelepon seseorang dan marah-marah. "Sudah
kubilang aku tidak bisa hari ini!" teriaknya.
"Ada apa, ibu?" tanya Hyo Seon. "Kau seperti bertengkar dengan seseorang. Kau
bertengkar dengan kakak?"
Kang Sook berbohong. "Ah, Ya." jawabnya.
Eun Jo berbincang dengan Dae Sung. Ia mengatakan bahwa jika ia berhasil dalam
penelitian ragi, maka ia akan pergi. "Jika aku berhasil, aku yakin itu cukup
untuk membayar hutang yang kutumpuk hingga sekarang." katanya.
Dae Sung menjadi cemas. "Bagaimana bisa kau berpikir itu sebagai hutang?"
tanyanya.
Tapi keputusan Eun Jo sudah bulat, Dae Sung tidak bisa berbuat dan berkata apa-apa.
Eun Jo berjalan keluar. Di sana, ia berpapasan dengan Jung Woo yang sedang
menangkat kayu. Eun Jo bergeser ke kiri untuk menghindarinya, tapi Jung Woo
malah ikut ke kiri. Eun Jo bergeser ke kanan dan Jung Woo ikut ke kanan.
"Kau jalan duluan." kata Eun Jo datar.
Jung Woo meletakkan kayunya dan membiarkan Eun Jo lewat.
"Aku menepati janjiku." katanya. "Kau tidak mengenaliku?"
Eun Jo berbalik.
Di pihak lain, Hyo Seon terkejut melihat pria di hadapannya. Ki Hoon.
"Kak Ki Hoon?" gumam Hyo Seon.
Ki Hoon tersenyum. "Kau masih mengenaliku."
Hyo Seon berlari memeluk Ki Hoon.
"Aku tidak mengenalmu." kata Eun Jo. "Mungkin kau salah orang."
"Tu... tunggu..." gumam Jung Woo. Ia mengejar Eun Jo. "Ini aku! Jung Woo!"
"Kau salah orang." kata Eun Jo. "Kau pekerja baru yang direkrut oleh Paman Hyo
Seon, Manajer Yang, bukan? Kau mencari Hyo Seon? Dia ada di dalam rumah saat ini."
"Ini aku, Jung Woo!" seru Jung Woo. "Jung Woo yang hidup dengan Tuan Jang
berambut!"
Eun Jo diam. Ia memandang lurus ke depan.
Jung Woo menoleh pada apa yang dilihat Eun Jo. Hyo Seon dan sedang berjalan
bersama dengan Ki Hoon.
"Aku kenal wajah itu." kata Ki Hoon, menatap Eun Jo. "Kau Kakak Hyo Seon, bukan?
Apa kau ingat aku?"
Eun Jo hanya diam, melihat Ki Hoon tanpa berkedip.
"Kakak, kau tidak ingat Kak Ki Hoon?" tanya Hyo Seon.
Eun Jo tetap diam dan tidak bergerak sedikitpun. Setelah beberapa saat, akhirnya
ia berkata, "Halo."
"Ya... halo..." balas Ki Hoon.
Hyo Seon mengajak Ki Hoon masuk ke rumah untuk menemui ayahnya. Eun Jo berjalan
lagi.
Mengetahui Ki Hoon berasal dari Angkatan Laut, Jung Woo memberi hormat padanya.
Rupanya Ki Hoon datang untuk melamar pekerjaan. Setelah menelepon dua kandidat
sebelumnya, yang ternyata sudah mendapat pekerjaan lain, akhirnya Eun Jo
terpaksa mewawancarai Ki Hoon.
"Pendidikan dan pengalamanmu sangat bagus." kata Eun Jo. "Kenapa kau ingin
bekerja di tempat seperti ini? Apakah ini hanya akan menjadi pemberhentian
sementara sebelum kau menemukan pekerjaan yang lebih baik?"
"Itu tidak akan terjadi." kata Ki Hoon, menatap Eun Jo. "Aku akan bekerja dengan
sangat keras hingga kau tidak akan mau kehilangan aku. Jika kelihatannya aku
ingin pergi, kau akan memperlakukan aku dengan lebih baik."
Dae Sung melirik mereka berdua.
"Aku sudah pernah hidup disini sebelumnya dan aku sangat menyukainya." tambah Ki
Hoon.
"Berapa lama kau menyelesaikan wajib militer?" tanya Eun Jo. "Apakah selama itu,
kau tidak pernah...."
"Aku selalu kembali setiap hari libur." jawab Ki Hoon.
Eun Jo kelihatan sangat terpukul mendengarnya.
Hyo Seon duduk di tepi sungai dan menelepon tempat audisinya. Ia gagal lagi.
"Kau gagal?" tanya Ki Hoon, berjalan mendekati dan duduk di sampingnya. "Apa kau
sedih?"
Hyo Seon menunduk.
"Tidak apa-apa." hibur Ki Hoon seraya mengusap rambut Hyo Seon. "Masih banyak
hal yang menyenangkan yang bisa dilakukan di dunia ini."
"Kakak, kemana saja kau selama ini hingga tidak pernah kembali sampai sekarang?"
tanya Hyo Seon. "Aku senang melihatmu."
"Kenapa kau ingin menangis?" tanya Ki Hoon.
"Aku tidak punya cita-cita, tidak punya rencana dan tidak punya tujuan. Bisakah
seseorang sepertiku memiliki hidup yang menyenangkan?" tanya Hyo Seon sedih. "Kakak,
katakan sesuatu yang bisa kupercaya seperti saat aku percaya bahwa bulan itu
kotak."
"Saat ka menjalani hidupmu dengan senang, maka kau akan menemukan impianmu."
kata Ki Hoon. "Kau akan menemukan tujuanmu dan membuat rencana untuk
menggapainya."
Hyo Seon bersandar di bahu Ki Hoon. "Kakak milikku, kenapa kau tidak pernah
datang? Kau sangat jahat."
Ketika Eun Jo lewat, ia melihat mereka.
Ki Hoon mengusulkan agar Perusahaan Anggur Dae Sung menayangkan iklan di
televisi, sama seperti Perusahaan Oh Sang, yang kini menjadi perusahaan terbesar
dengan 6 cabang.
Eun Jo menyuruhnya memperkirakan jumlah biaya yang dibutuhkan dan membuat
laporan, lalu menyerahkan semua itu padanya.
Eun Jo meminta Hyo Seon berlaku layaknya model iklan.
"Minumlah, tapi dengan label yang menghadap depan." kata Eun Jo.
"Jika kau membuatku melakukan ini tanpa alasan yang bagus, kau akan mati." kata
Hyo Seon kesal. Ia meminumnya. "Enak." katanya.
Eun Jo memotret Hyo Seon.
"Kenapa kau melakukan ini?" tanya Hyo Seon.
"Kau cukup cantik." kata Eun Jo.
Hyo Seon bingung. "Hah? Apa katanya?"
Karena penasaran. Hyo Seon mengejar Eun Jo. "Apa katamu? Tolong katakan sekali
lagi. Kau bilang aku cantik, bukan? Kakak, kau berkata itu dari mulutmu sendiri,
bukan?"
"Ini bukan pertama kali kau mendengarnya." kata Eun Jo. "Ibu bilang beratus-ratus
kali setiap hari. Semua orang di keluarga kita dan di Perusahaan Dae Sung
berpikir kau cantik. Joon Soo juga bilang Kakak kecil yang paling cantik.
Mungkin pacarmu juga berpendapat sama. Pulanglah dan jangan ganggu aku."
Hyo Seon memegang wajahnya, kemudian tersenyum senang.
Ki Hoon menyerahkan laporan perkiraan biaya, tapi Eun Jo memintanya membuat lagi
dengan mengurangi biaya agen, model, naskah dan direktor. Ia meminta Ki Hoon
menambahkan biaya untuk fotografer dan poster karena menurutnya itulah yang
paling penting.
Ki Hoon mendengarkan. "Kau tidak ingin mengatakan hal lain padaku?" tanyanya.
"Sudah cukup. Kau boleh pergi." kata Eun Jo acuh.
"Benarkah tidak ada?" tanya Ki Hoon lagi. "Baiklah. Aku pergi sekarang."
Paman Hyo Seon mengajak Jung Woo ke sebuah jalan kecil dikelilingi hutan dengan
membawa beberapa gentong anggur. Ia menyuruhnya turun dan menelepon bila melihat
sesuatu.
Beberapa saat kemudian, Paman Hyo Seon datang lagi tanpa gentong anggur. Jung
Woo agak bingung.
Dae Sung memerintahkan Hyo Seon bekerja kembali di Perusahaan Anggur Dae Sung.
Kang Sook pergi ke Seoul untuk menemui mantan pacarnya, Jang, dengan alasan
untuk melihat dunia luar agar bisa melakukan sesuatu yang berguna. Ia pergi
menemuinya untuk mabuk-mabukan dan melampiaskan rasa frustasinya.
Kang Sook tiba rumah saat hari sudah gelap. Dae Sung keluar tiba-tiba. Ia
menceritakan bahwa teman Hyo Seon menelepon dan mengatakan bahwa putrinya itu
minum hingga mabuk.
"Ki Hoon dan Eun Jo sedang pergi menjemputnya." kata Dae Sung.
Kang Sook menarik napas panjang. "Aku juga baru saja bertemu dengan teman Hyo
Seon." katanya berbohong. "Ayo kita bicara di dalam."
Di dalam mobil, Ki Hoon menyalakan musik klasik. "Ini Jung Kyung Ah." katanya. "Apa
ada sesuatu yang kau ingat?"
Eun Jo tidak menjawab dan memejamkan mata.
Ki Hoon menggendong dan membaringkan Hyo Seon di tempat tidur, kemudian berjalan
keluar. Eun Jo menyelimuti Hyo Seon. Ia keluar dan melihat Ki Hoon masih ada
disana.
"Kau benar-benar tidak ingin mengatakan apapun padaku?" tanya Ki Hoon.
Eun Jo diam.
Ki Hoon menarik tangan Eun Jo dan mengajaknya keluar gerbang. "Kau berpura-pura
tidak mengenalku?"
"Apa aku berpura-pura tidak mengenalmu?" Eun Jo bertanya balik.
"Jika tidak..."
"Tutup mulutmu!" kata Eun Jo sinis. "Brengsek! Apa artinya Hyo Seon bagimu dan
apa artinya aku? Mulanya aku tidak tahu kalau kau seorang pria brengsek, tapi
sekarang aku tahu."
"Bukan." kata Ki Hoon. "Bukan Hyo Seon. Itu tidak benar."
"Apa Hyo Seon tahu bahwa itu tidak benar?" tanya Eun Jo dingin.
"Itu tidak benar!" seru Ki Hoon.
"Kau dipecat." kata Eun Jo. "Jangan pernah berpikir untuk menginjakkan kaki lagi
di tempat ini." Eun Jo berjalan pergi meninggalkan Ki Hoon.
"Eun Jo-ah!" panggil Ki Hoon.
Eun Jo berhenti berjalan.
"Eun Jo-ah." panggil Ki Hoon lagi. "Eun Jo-ah."
Eun Jo menangis.
credit to princess-chocolates.blogspot
Tidak ada komentar:
Posting Komentar